Menangani Retak pada Dinding

imageTidak jarang sebuah rumah yang baru saja di bangun, dindingnya mengalami retak-retak. Retak-retak itu diibaratkan luka yang ada pada kulit kita. Bila tidak disembuhkan akan bertambah parah. Maksudnya disembuhkan disini adalah retak-retak tersebut ditutupi, ditambal dan diperbaikihingga dindingnya bisa mulus lagi seperti semula. Tetapi agar kita dapat memperbaikinya dengan baik, maka kita perlu tahu jenis “luka” apa yang sedang melanda dinding rumah kita, sehingga kita bisa mengambil langkah perbaikan yang tepat.

Menurut Dr. Ing.Ir.Henki W.Ashadi (Kepala Laboratorium Beton UI), retak pada dinding rumah bisa dibedakan menjadi dua jenis yaitu retak struktural dan retak non struktural. Keduanya memiliki ciri yang berbeda, penyebab yang berbeda, dan penanganan yang berbeda pula.

Retak Struktural

Retak struktural adalah retak yang diakibatkan oleh pergeseran struktur yang menopang dinding. Retak ini perlu diwaspadai karena jika dibiarkan terus menerus, akan berdampak pada kekokohan bangunan. Ciri-cirinya pun sangat khas, yaitu retak dimulai dari arah pojok atas ke pojok bawah dan membentuk garis diagonal. Tetapi ada beberapa kasus cirinya agak berbeda, yakni garis retaknya mengikuti pola bata.

Penyebab utamanya adalah akibat pergeseran kolom dan pondasi yang menyokong dinding. Ketika kolom dan pondasi bergeser atau turun, dinding yang tadinya diam seakan dipaksa untuk bergerak dan tertarik ke sana sini.

Bergesernya atau turunnya kolom ini bisa disebabkan oleh 2 hal, yaitu getaran dan kondisi tanah yang labil. Getaran dapat disebabkan oleh alam dan manusia. Yang disebabkan oleh alam biasanya disebabkan oleh gempa bumi. Sedangkan yang disebabkan oleh manusia biasanya terjadi bila ada perlakuan tertentu terhadap tanah yang terletak di sekitar bangunan, misalnya penggalian besar-besaran untuk pembangunan basement atau pondasi tiang pancang. Selain karena getaran biasanya pergeseran kolom disebabkan kondisi tanah yang jenuh alias terlalu banyak mengandung air misalnya tanah rawa dan tanah lempung. Ketika diberi beban, air yang memenuhi sebagian besar pori-pori tanah tersebut akan keluar dan permukaan tanah akan menurun. Dan secara otomatis, pondasi dan kolom yang berada di atas tanah akan ikutan turun.

Perbaikan

Untuk perbaikannya, terlebih dahulu kita harus membenahi pondasi dan kolom yang bergeser itu. Perkuatan bisa dilakukan dengan sistem injeksi, yaitu memberikan batu kapur, semen, dan pasir di sekeliling dan di bawah pondasi. Setelah penyebabnya selesai diperbaiki, barulah dinding yang retak ditangani. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan, tergantung seberapa parah kerusakan yang dialami. Diantaranya adalah membobok tembok dan menggunakan steples.

  • Membobok tembok, ada yang berpendapat membobok tembok jika retak yang ada lebih dari 0,6 cm. tetapi ada pula yang berpendapat sebaiknya selebar apapun retak mesti ditangani dengan cara membobok dinding di sekitar retakan, lalu memasang lagi bata dengan semen. Alasannya adalah pekerjaannya lebih mudah namun dampaknya lebih baik daripada menggunakan besi yang ditanam ditembok.

  • Menggunakan steples, artinya ketika tembok retak, maka Anda bisa mensteplesnya dengan menggunakan besi tulangan. Besi ini berfungsi memegang bata yang retak sehingga bata tahan terhadap tarikan. Caranya adalah bongkar plesteran dan lubangi bata di sekitar retakan, kemudian campur adukan semen dan pasir pada lubang tersebut, dan bila perlu pasang juga besi tulangan diameter 8 mm dan panjang 30 cm untuk setiap 10 lapis bata. Tulangan ini dipasang tegak lurus terhadap garis retakan. Setelah tulangan dipasang, tutup kembali lubang yang telah dibuat dengan campuran adukan semen dan pasir.

Tip untuk Anda yang memiliki retak struktural pada dindingnya yaitu jangan langsung ditangani jika muncul retak, tunggulah beberapa saat hingga retaknya benar-benar selesai. Amati retaknya, jika dalam beberapa hari retak tidak bertambah, baru Anda lakukan perbaikan.

Retak Non Struktural

Retak non struktural adalah retak yang sifatnya agak ringan, yang hanya menyerang permukaan dinding saja. Retak ini sering disebut sebagai “retak rambut” karena garis retaknya sangat tipis dan lembut seperti rambut. Retak non struktural ini tidak menentu, bisa dari atas ke bawah, dari samping kanan ke samping kiri, atau bisa berbentuk abstrak tak beraturan.

Penyebab

  • Perbedaan muai susut bahan. Dinding terdiri atas beberapa bahan penyusun yang berbeda-beda. Didalamnya ada bata merah atau batako, atau bata ringan, serta adukan semen untuk spesi, plester, dan acuan. Masing-masing bahanmemiliki nilai muai susut yang juga berbeda-beda. Saat ada perubahan suhu, satu bahan akan menyusut lebih cepat sementara bahan lainnya mungkin belum mengalami perubahan apa-apa. Perbedaan “gerakan” ini, walaupun tidak kasat mata, dapat memicu keretakan.

  • Kelembaban tidak dijaga. Hal ini berkaitan ketika proses pembangunan dinding di musim kemarau, di mana dinding bagian dalambelum kering dengan sempurna sedangkan dinding luarnya langsung kering karena terpapar sinar matahari secara langsung. Perubahan yang cepat seperti inilah yang menyebabkan lapisan luar dinding “pecah”

  • Komposisi bahan kurang tepat.  Masing-masing bahan dinding, baik itu bata merah, batako, atau bata ringan memiliki karakteristik tersendiri. Karena itu bahan perekatnya pun harus khusus, agar antara plesteran dan bata lebih menempel. Dengan bahan perekat khusus ini, tidak perlu membuat plesteran yang tebal-tebal. Plester yang terlalu tebal bobotnya lebih berat dan malah membuat plester cepat lepas dan membentuk retakan-retakan di dinding.

Cara menambal retak

  • Campurkan air ke dalam bahan penambah retak (crack filler), sesuai dengan takaran yang ditentukan. Aduk rata.

  • Retak di dinding harus dikerok dulu, agar adukan dapat menutup tepat di sumber retak

  • Oleskan adukan ini sepanjang retakan, ratakan dengan kape. Setelah itu, dinding dapat dicat ulang.

Cegah retak dari awal

Beberapa pencegahan yang bisa Anda lakukan adalah :

  • Saat membangun rumah, jangan sampai ada korupsi ukuran dan bahan. Apalagi saat pengerjaan struktur. Jika ukuran dan bahan dikurang-kurangi akibatnya konstruksi jadi tidak stabil dan keretakan di dinding baik itu retak struktural maupun yang non akan sering terjadi.

  • Bentangan dinding yang terlalu lebar juga menjadi penyebab keretakan. pasangan bata saja tidak cukup kuat untuk menahan beban horizontal. Karena itu, setiap jarak 3 m pada dinding harus dipasang kolom praktis yang berfungsi untuk menambah kekakuan dinding.

  • Komposisi semen dan pasir sangat menentukan kualitas plester dan acian dinding. Agar tidak terjadi keretakan, penggunaan semen instan yang langsung dicampur air akan sangat membantu. Sebabnya, campuran semen dan pasir lebih konsisten karena dibuat di pabrik. Selain bahan bakunya standar, semen instan juga memiliki daya rekat yang lebih tinggi, berkat bahan khusus yang ditambahkan pada campuran.

  • Saat pemasangan bata untuk dinding, kesalahan yang sering dilakukan adalah terburu-buru memplester segera setelah bata dipasang. Beri waktu agar kandungan air pada spesi (adukan semen diantara bata) sudah hilang, sekaligus agar pasangan bata sudah memuai dan menyusut sampai ke ukuran yang stabil. Idealnya, setelah  2 sampai 3 minggu, barulah dinding boleh diplester dan di aci. [Tabloid Rumah]