Fitrah Manusia Terangkat karena Gotongroyong

image

Keindahan arsitektur bukanlah karena “akrobat bentuk”. Tetapi pada keberhasilan memahami manusia (dan alam huniannya). Hakikatnya, semua manusia juga berjiwa sosial –selain kodratnya sebagai makhluk individual. Sekolah Vokasional di Sra Pou, Kamboja (2012) membuktikannya.

image

image

image

Biro dari duet Hilla Rudanko dan Anssi Kankkunen baru didirikan 2010. Toh bisa berprestasi. Kerjasama mereka dengan LSM Ukumbi (Finlandia) sekaligus menghantarkan duet itu menerima dua award. Masing-masing di World Architecture Festival Awards 2011 dan Real World Redux Award 2011. Kekuatan karya ini, tak syak sedikit pun, adalah pada keterlibatan masyarakat, sejak dari mengukur, merencanakan, membuat batu bata, membuat eksperimen, mengecor beton, mengayam daun pintu, sampai menempati. Ditambah lagi dengan keberhasilan membuatnya terpadu dengan potensi lingkungannya. Maka, pesta pembukaan sekolah itu ialah pesta saling peduli dan saling kasih-mengasihi antarmanusia dan antara manusia dengan alamya. Pesta kemanusiaan di atas kedamaiannya dengan bumi. Dan itu terjadi di Kamboja ‒yang esensi budaya dan alamnya masih bisa disebut “Nusantara”. Bukan Nusantara Kepulauan, tetapi Nusantara Daratan (Asia).

image

Keindahan arsitektur berbeda total dengan upaya untuk mencari sensasi atau popularitas. Keindahan yang sesungguhnya ada pada nilai-nilai kemanusiaan yang murni (tanpa terlalu banyak disusupi pamrih pribadi para pemangku kepentingan, termasuk arsiteknya). Salah satu kemurnian kemanusiaan adalah gotongroyong, atas dorongan saling mengasihi sesama. Rudanko dan Kankkunen masih sangat muda. Bagaimana kalangan muda arsitek di Indonesia? Terus mencari ketenaran dan kekayaan materi untuk diri sendiri?

[4archiculture.com]